Saturday, October 1, 2016

Apakah Percuma?

Apakah percuma untuk mendapatkan pengganti orang yang kamu cintai?
Apakah percuma untuk dapat mencintai orang lain?
Apakah percuma untuk dapat melangkah maju?
Apakah percuma untuk dapat merasakan cinta dari orang lain yang juga mencintai kamu?

Pertanyaan demi pertanyaan berusaha saya jawab. Berusaha saya renungkan kembali. Kenapa? Karena, saya merasakan kesia-siaan dalam menjalani segala sesuatunya, kecuali pekerjaan. I love my team, I love my job, and I love my boss. Well, not that love, love. But, I think I love to work with her.

Pertanyaan-pertanyaan ini juga sempat saya diskusikan dengan beberapa teman baik saya. 

"He asked me to marry him, with one condition. But it should be without any condition, right? Is he really love me?" "He wants me to live with him for the rest of our life, with one condition. But why he asked me with one condition?" "He love me as much as I love him. But this time, without any condition. Are we gonna live this kind of relationship for the rest of our life?"

Dan jawaban demi jawaban, belum memenuhi pertanyaan-pertanyaan saya. Yang sayangnya, ini menjadi pertanyaan baru.

"Kamu mau penuhi apa yang menjadi keinginan ego-mu atau pertanyaanmu?"

Tapi, dari beberapa kejadian berat yang harus saya alami beberapa waktu terakhir ini, saya merasa... Percuma. Apa perbedaan hubungan ini dengan hubungan yang saya jalani sebelumnya? Apa bedanya ini dengan kondisi yang harus saya jalani sebelumnya?

Apakah saya harus berdiri di tempat?
Apakah saya harus gigit jari dan melihat orang lain menjalani hidupnya lebih baik daripada saya?
Apakah di tengah kepuasan yang mereka dapatkan, apa ada rasa sesal yang terselip di dalamnya?


No comments:

Post a Comment