Sunday, July 5, 2015

Equality of (or In?) Love

Lately, waktu dan perhatian kita sangat tersita sama yang namanya pernikahan sesama jenis yang di legalkan di Amerika Serikat.

Dilegalkan di satu negara. Ya, SATU NEGARA. Jadi, kalo gue gak salah "nangkep", ini berarti pernikahan sesama jenis sudah di legalkan di Amerika Serikat. Okay, against all odds, love wins.

Di awal pembukaan blog gue kali ini, gue mengangkat, betapa tersitanya waktu kita, yang di Indonesia dengan perdebatan antara harus di legalkan atau tidak. Dari beberapa pendapat yang ada, malah hampir mirip perdebatan antar teman mengenai calon presiden yang bakalan dipilih waktu pilpres kemarin, sengit banget.

Mulai dari yang santai dan dibawa becanda, yang ujung-ujungnya sama-sama menyatakan ketidak pahaman akan konsep cinta yang sebenarnya, sampai mereka yang bertindak bagaikan orang yang benar baik dari kehidupan duniawi dan rohaninya, memandang semua pelaku pernikahan sesama jenis akan terbakar di api neraka (sarcasm smirk started appear on my face).

In my humble yet sarcastic opinion, seharusnya ini tidak perlu terjadi. Apalagi buat mereka yang sampai menjadi "ahli agama" dadakan. Memperdebatkan issue ini sampai mengutip beberapa ayat-ayat dari kitab suci, sambil menempatkan diri ada di posisi bahwa, merekalah sebagai agen pembawa kebenaran yang patut di perhitungan dan di pertimbangkan apabila suatu saat punya ide mencari penasihat spiritual. Lalu, mereka pelaku pernikahan sesama jenis, adalah penerima tiket jalan bebas hambatan sebagai penghuni neraka apalagi bagi mereka yang "straight" sebagai pendukungnya adalah penerima tiket terusan pun dengan tujuan yang sama, neraka.

Gue pribadi, sebagai seseorang yang punya teman lesbian dan gay, melihat hal ini sebagai, kemunduruan nilai kemanusiaan yang makin lama makin tidak malu buat di tutupi. Kenapa? 
  1. Menyebutkan mereka yang terlibat langsung (LGBT), sebagai pelaku? Kenapa?
  2. Memandang LGBT adalah orang yang hina. Back to point number 1, mencintai orang yang kita cintai adalah perbuatan yang hina? So how about corruption? Stealing from the one, who already doesn't have nothing? Or, having affair with someone else lover? Cheating from your love one?
  3. You too fucked up. That's it. As simple as that. Pandangan lo atas suatu masalah terlalu sempit. Too selfish, too narrow, too shallow.
Kemunduran ini selalu ditutupi dengan alasan agama. Dengan alasan, Tuhan sudah menciptakan Adam dan Hawa sebagai simbolisasi bahwa laki-laki diciptakan sebagai pendamping perempuan. Tuhan, yang diwakilkan oleh orang-orang terpilih yang kita kenal sebagai pembawa perintah Tuhan/nabi, memberitakan, menyebarkan, dan lalu menuliskan bahwa, bukanlah suatu hal yang wajar apabila laki-laki menginikan laki-laki sebagai pendamping hidupnya atau sebaliknya.

Kemunduran ini juga selalu ditutupi dengan ketakutan-ketakutan bahwa ini akan menular pada mereka yang "normal". Bahwa, apabila terlalu banyak bergaul dengan mereka yang seperti ini, akan menularkan kebiasaan buruk mencintai sesama jenis.

Kenapa tidak kita lihat ini sebagai issue yang bisa kita jadikan pembelajaran? Kenapa enggak kita sama-sama belajar, mencoba memahami, dan mencoba untuk bisa tahu, apa latar belakang bahwa mereka memilih ini sebagai jalan hidup mereka? Bukan menghujat, meneriakkan bahwa Tuhan akan membakar mereka dalam api neraka. Mereka akan ditempatkan di neraka level terdalam, dan mereka tidak pantas punya keturunan, dan sebagainya. 

Karena apa? 

Karena bukan itu jalan keluarnya. Itu gak buat mereka menjadi straight bukan? Gak akan membuat mereka sadar bahwa sebenarnya sistem dari alam tidak seperti itu. Bahwa sebenarnya Tuhan tidak menjalankan sistem yang seperti ini. Karena apa, karena mereka kalau bisa memilih dari sebelum mereka lahir, mereka akan memilih untuk bisa menjadi sesuai dengan apa yang sudah dijalankan oleh Tuhan. Karena kalau mereka bisa memilih, mereka akan memilih untuk nggak menjadi seperti yang mereka jalankan sekarang. 

Sampai disini, akan ada suara dari belakang sana, "Oh sekarang lo malah nyalahin Tuhan? Dan lo adalah salah satu dari mereka yang masuk neraka!" B****, I heard you saying some s*** and I don't give a damn!

No, gue gak melihat pendapat gue ini sebagai bentuk menyalahkan Tuhan. Tapi gue melihat issue ini sebagai pembelajaran buat gue. Pembelajaran untuk gue, if one day, one of my closest person in my life ternyata LGBT, bagaimana gue akan bersikap. Bagaiman gue akan menerima kenyataan bahwa dia menjalani hidup yang seperti itu. 

Janganlah habisin energi kalian untuk sesuatu yang udah menjadi misteri alam dan misteri penciptanya, Tuhan. Dilegalkan atau tidak dilegalkan, konsep yang diangkat disini masih sama dengan kita yang straight, which is love. Dan cara kerjanya cinta itu, sangat mirip dengan pekerjaan Tuhan, work in mysterious way.

Abisin energi kalian untuk issue yang lebih penting, contohnya urusan pribadi masing-masing misalnya? Yang jomblo, mending cari pacar, yang udah punya pacar, mantepin diri buat ke jenjang yang selanjutnya, dan seterusnya. Karir di bikin makin oke. Tingkatin kemunduran nilai sosial kalian dengan sesuatu yang lebih berguna. 

Hope this article find your brain well.

Love you all.
LollipopSailor