Well~~
Mungkin sudah ada yang baca postingan ini di salah satu social media tempat saya post. Sebenarnya gak ada niatan untuk posting ini di blog or thinking to share the detail about how I felt tonight sih sebenarnya. Cuma memang sangat tertarik banget sama topiknya. So shall we?
As you know, sebelumnya saya lagi menikmati beberapa episode terbaru dari salah satu drama korea terbaru, Doctors. Ada yang pernah denger atau malah ada yang ikutin serinya?
Jadi, di salah satu episode nya ada bercerita tentang single parent, ayah lebih tepatnya, yang harus menghadapi kenyataan dimana beliau memiliki 2 anak laki-laki yang kebetulan keduanya ada tumor di otak. Jadi ceritanya adalah, ayahnya ini cuma pekerja kecil yang pada intinya, sebenarnya gak punya uang sebanyak itu untuk biaya operasi dan kawan-kawannya. Dan sayangnya, disini digambarkan bahwa, terkadang fasilitas kesehatan yang mumpuni itu tidak bisa dinikmati juga oleh teman-teman yang menengah kebawah. Adegannya itu menggambarkan bahwa si ayah udah susah payah kerja keras double job untuk biaya operasi dan tetap bersikeras bahwa beliau gak capek dan adalah an unbeatable person for his children. He will do anything for them and to protect them no matter what.
Tujuan tulisan ini sebenarnya bukan untuk berkoar-koar membicarakan bahwa betapa sucks nya sistem kesejahteraan dan fasilitas mumpuni yang tidak bisa di nikmati oleh semua kalangan. Nope. Right now, I'm done with that shit.
Saya disini hanya ingin memuji kepiawaian sang sutradara yang berhasil buat saya nangis. Beliau berhasil "nyentil" bagian ter sensitif saya, ayah.
Valty Kangiras, Kelahiran Makassar, 31 Des 1947. Adalah sosok yang cerewet but in a certain point, beliau seringkali dianggap bisu, karena jarangnya dia bicara. Beliau adalah sosok yang selalu memaksakan tingkat kemampuan dirinya sendiri. Yang kadang-kadang menurut saya bodoh dan pernah di satu titik, saya malu akan kebiasannya ini.
Sosok ayah buat saya itu, can not be replace. Seperti postingan sebelumnya, ayah itu buat saya adalah sosok yang kelewat hebat. Even Superman pun gak ada apa-apanya dibandingkan beliau. Dan, yang paling saya ingat dari ajarannya ke kami adalah, tanggung jawab. Jangan pernah lari dari tanggung jawab. Sekecil apapun kesalahannya, hadapi konsekuensinya dengan dagu terangkat. For me, ini adalah poin kehidupan yang gak bisa saya peroleh dari tempat lain selain ayah saya.
Peminum ala-ala. Penikmat beer dengan merek Anker, yang kebetulan menurun ke saya Penikmat film kelas dua dengan bintang kesayangannya Steven Segeal (Seagel?) dan Van Damme (Damn? Hahah). Penggemar Arsenal FC dan pendukung setia tim Ferari kadang-kadang Mclaren. Penggemar teori-teori konspirasi akan keadaan negara Indonesia kita ini. Seorang yang lebih memilih gak ada cemilan sore daripada berhenti berlangganan koran hanya karena beliau tahu, saya hobi baca.
Apa sih hubungannya sama semuanya ini? Drama Korea dan bapakmu?
Well, saya pernah ada di kondisi dimana ayah saya ini benar-benar tidak ada uang. Kondisi dimana saya harus menunggu beliau pulang dari kerjaannya atau hasil pencarian beliau yang entah kemana, hanya untuk uang sejumlah Rp 10 ribu/hari. Kondisi dimana saya harus menangis diam-diam karena saya malu dengan keadaan. Kondisi dimana saya harus marah-marah ke ayah saya dan mengutuk keadaan yang beliau pilihkan untuk saya dan the rest of family member., yang belakangan ini membuat saya menyesal setengah mati dan bertanya, kenapa saya harus malu? Kenapa saya harus marah?
Hingga hari ini, beliau sudah 2 tahun meninggalkan saya. Meninggalkan saya dengan lobang di hati saya yang menganga lebar. Meninggalkan saya dengan hati yang tersakiti karena kabar terakhir yang saya dengan dari pengakuan beliau via pembicaraan di telepon, "Papa laper banget nih~ habis gempa malah laper, ada nasi uning yang buka gak ya?" dan dialog ini sampai detik sukses bikin saya sakit hati sampai sesak napas. Karena jawaban saya cuma, "Papa masih ada uang? Kalo udah habis, bilang ya, Fanny ada sisa uang nih sedikit." Dan jawaban beliau hanya, "Belagu~~ Simpan aja. Berbagi setiap Minggu untuk kolekte di gereja. Kembalikan sisa berkat ke Dia." Jujur, saya masih sakit hati.
Masih segar di dalam kepala saya, beliau bisa kerja sampai jam 3 subuh. Pulang bawa sound system-nya, sambil tenteng plastik yang isinya nasi kuning atau nasi goreng, yang saya tahu banget itu bukan makanan yang proper untuk pria seumuran beliau. Keluhan demi keluhan beliau telan sendiri, karena saya yakin beliau gak mau anak-anak dan istrinya khawatir.
Poin-poin yanng saya ingat tentang ayah saya ini, masih bikin saya sakit hati. Dan luka di hati saya masih berdarh-darah. Masih bernanah yang keumungkinan besar gak akan bisa sembuh. Obatnya? Dengar suara beliau. Pelukannya beliau. SMS-SMS bodohnya beliau. Pertanyaan2 beliau tentang resep spageti. Pembicaraan-pembicaraan singkat dengan beliau via telepon.
Saya bingung bagaimana menutup tulisan ini. Jujur, saya menulis sambil lap ingus. Sambil minum sedikit Bacardi untuk pengingat ini rasa rum yang beliau suka dan beliau ganti dengan rum untuk kue karena terbatas biaya untuk beli Bacardi.
Okay~ Hargai setiap momen yang masih bisa dinikmati dengan orang tua kalian, kalau dalam kasus saya, adalah papa. Jangan jadi seperti saya yang malah nyesel via blog.
Valty Kangiras, you know how much I missed you right? I know you know it too. Too many things you already done for me, Dad. Thank you~~
Saturday, August 6, 2016
Tuesday, August 2, 2016
You
Here I am, sitting in the middle of working hour, just to "enjoying" around me.
Beberapa bulan terakhir ini memang bulan terberat. Cukup berat yang sanggup membuat saya harus mencari bahu yang cukup kuat untuk bisa "menumpang" bersandar.
Pada dasarnya, saya adalah pribadi didikan papa yang kebetulan lahiran jaman dulu banget. Maklum, papa adalah personal yang lahir di tahun 1947 dan tumbuh dewasa di tengah tekanan lingkungan yang baru aja merdeka, jadi segala sesuatunya serba susah. Tapi, bahkan didikan papa saya tidak cukup membuat saya berdiri tegak dengan adanya masalah-masalah yang terjadi di sekitar saya.
Terkadang, kalo saya sedang dalam intimate communication with God, saya selalu tanya, "Apa yang salah dari saya sampai saya harus menghadapi ini sendirian?" "Kenapa saya gak kuat Tuhan?" "Kenapa saya takut Tuhan, padahal saya punya Tuhan, Tuhan yang tidak pernah tidur?" "Saya mau papa sama mama saya balik Tuhan, boleh?"
Banyak pertanyaan saya sampaikan ke Dia lewat doa, plus pake air mata dan ingus kentel warna ijo yang bikin saya susah napas lewat idung (kali aja tertarik). Tapi entah kenapa, pertanyaan saya gak ada yang di jawab. Gak ada satu pun pertanyaan saya yang di selipin petunjuk sama Tuhan. Padahal, saya manusia juga. Biarpun di ajarkan untuk tidak boleh takut karena berserah pada Dia, saya tetap pnik, tetap takut, tetap kebingungan.
Dan sampai akhirnya doa saya dijawab, dengan hadirnya "bahu" yang kuat, yang malahan kelewat kuat. Dia berhadapan dengan sisi terendah, ter-norak, ter-kampungan, terbodoh dari pribadi saya. Di kala saya berusaha untuk tenang, tapi saat saya meledak dengan sisi gelap saya, dia berdiri tegak untuk hadapi semuanya. Mulai dari kata-kata sakitin hati sampai kata kotor, semua dia telen mentah-mentah.
Kagum.
Itu yang bisa saya gambarkan tentang perasaan saya tentang dia.
Hebat.
Kuat.
Di saat orang lain mungkin akan pergi tinggalkan saya dengan sisi terendah saya, beliau berdiri kuat untuk menopang kehidupannya dan kerendahan saya. Beliau yang menghadapi sisi gelap itu sama-sama dengan saya.
Yang sampai pada akhirnya, setelah doa-doa saya dijawab dan keadaan sudah membaik, dia tidak minta apa-apa in return. Dia ikut senyum ikut senang.
"Thank God, sudah aman ya?" katanya with a glimpse of smile.
"Thank God, He sent you to me", rasanya saya mau jawab begitu. Tapi, saya cuma bisa senyum sambil ngunyah coklat.
Will you stay with me? And deal with my ego, the one who will consume me piece by piece until I disappear?
Beberapa bulan terakhir ini memang bulan terberat. Cukup berat yang sanggup membuat saya harus mencari bahu yang cukup kuat untuk bisa "menumpang" bersandar.
Pada dasarnya, saya adalah pribadi didikan papa yang kebetulan lahiran jaman dulu banget. Maklum, papa adalah personal yang lahir di tahun 1947 dan tumbuh dewasa di tengah tekanan lingkungan yang baru aja merdeka, jadi segala sesuatunya serba susah. Tapi, bahkan didikan papa saya tidak cukup membuat saya berdiri tegak dengan adanya masalah-masalah yang terjadi di sekitar saya.
Terkadang, kalo saya sedang dalam intimate communication with God, saya selalu tanya, "Apa yang salah dari saya sampai saya harus menghadapi ini sendirian?" "Kenapa saya gak kuat Tuhan?" "Kenapa saya takut Tuhan, padahal saya punya Tuhan, Tuhan yang tidak pernah tidur?" "Saya mau papa sama mama saya balik Tuhan, boleh?"
Banyak pertanyaan saya sampaikan ke Dia lewat doa, plus pake air mata dan ingus kentel warna ijo yang bikin saya susah napas lewat idung (kali aja tertarik). Tapi entah kenapa, pertanyaan saya gak ada yang di jawab. Gak ada satu pun pertanyaan saya yang di selipin petunjuk sama Tuhan. Padahal, saya manusia juga. Biarpun di ajarkan untuk tidak boleh takut karena berserah pada Dia, saya tetap pnik, tetap takut, tetap kebingungan.
Dan sampai akhirnya doa saya dijawab, dengan hadirnya "bahu" yang kuat, yang malahan kelewat kuat. Dia berhadapan dengan sisi terendah, ter-norak, ter-kampungan, terbodoh dari pribadi saya. Di kala saya berusaha untuk tenang, tapi saat saya meledak dengan sisi gelap saya, dia berdiri tegak untuk hadapi semuanya. Mulai dari kata-kata sakitin hati sampai kata kotor, semua dia telen mentah-mentah.
Kagum.
Itu yang bisa saya gambarkan tentang perasaan saya tentang dia.
Hebat.
Kuat.
Di saat orang lain mungkin akan pergi tinggalkan saya dengan sisi terendah saya, beliau berdiri kuat untuk menopang kehidupannya dan kerendahan saya. Beliau yang menghadapi sisi gelap itu sama-sama dengan saya.
Yang sampai pada akhirnya, setelah doa-doa saya dijawab dan keadaan sudah membaik, dia tidak minta apa-apa in return. Dia ikut senyum ikut senang.
"Thank God, sudah aman ya?" katanya with a glimpse of smile.
"Thank God, He sent you to me", rasanya saya mau jawab begitu. Tapi, saya cuma bisa senyum sambil ngunyah coklat.
Will you stay with me? And deal with my ego, the one who will consume me piece by piece until I disappear?
Subscribe to:
Posts (Atom)