Here I am, sitting in the middle of working hour, just to "enjoying" around me.
Beberapa bulan terakhir ini memang bulan terberat. Cukup berat yang sanggup membuat saya harus mencari bahu yang cukup kuat untuk bisa "menumpang" bersandar.
Pada dasarnya, saya adalah pribadi didikan papa yang kebetulan lahiran jaman dulu banget. Maklum, papa adalah personal yang lahir di tahun 1947 dan tumbuh dewasa di tengah tekanan lingkungan yang baru aja merdeka, jadi segala sesuatunya serba susah. Tapi, bahkan didikan papa saya tidak cukup membuat saya berdiri tegak dengan adanya masalah-masalah yang terjadi di sekitar saya.
Terkadang, kalo saya sedang dalam intimate communication with God, saya selalu tanya, "Apa yang salah dari saya sampai saya harus menghadapi ini sendirian?" "Kenapa saya gak kuat Tuhan?" "Kenapa saya takut Tuhan, padahal saya punya Tuhan, Tuhan yang tidak pernah tidur?" "Saya mau papa sama mama saya balik Tuhan, boleh?"
Banyak pertanyaan saya sampaikan ke Dia lewat doa, plus pake air mata dan ingus kentel warna ijo yang bikin saya susah napas lewat idung (kali aja tertarik). Tapi entah kenapa, pertanyaan saya gak ada yang di jawab. Gak ada satu pun pertanyaan saya yang di selipin petunjuk sama Tuhan. Padahal, saya manusia juga. Biarpun di ajarkan untuk tidak boleh takut karena berserah pada Dia, saya tetap pnik, tetap takut, tetap kebingungan.
Dan sampai akhirnya doa saya dijawab, dengan hadirnya "bahu" yang kuat, yang malahan kelewat kuat. Dia berhadapan dengan sisi terendah, ter-norak, ter-kampungan, terbodoh dari pribadi saya. Di kala saya berusaha untuk tenang, tapi saat saya meledak dengan sisi gelap saya, dia berdiri tegak untuk hadapi semuanya. Mulai dari kata-kata sakitin hati sampai kata kotor, semua dia telen mentah-mentah.
Kagum.
Itu yang bisa saya gambarkan tentang perasaan saya tentang dia.
Hebat.
Kuat.
Di saat orang lain mungkin akan pergi tinggalkan saya dengan sisi terendah saya, beliau berdiri kuat untuk menopang kehidupannya dan kerendahan saya. Beliau yang menghadapi sisi gelap itu sama-sama dengan saya.
Yang sampai pada akhirnya, setelah doa-doa saya dijawab dan keadaan sudah membaik, dia tidak minta apa-apa in return. Dia ikut senyum ikut senang.
"Thank God, sudah aman ya?" katanya with a glimpse of smile.
"Thank God, He sent you to me", rasanya saya mau jawab begitu. Tapi, saya cuma bisa senyum sambil ngunyah coklat.
Will you stay with me? And deal with my ego, the one who will consume me piece by piece until I disappear?
No comments:
Post a Comment